Senin, 17 Januari 2011

Contoh Pidato

Hubungan Pendidikan dengan Pembentukan Karakter Anak Bangsa

Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Yang terhormat bapak Presiden Republik Indonesia
Yang terhormat bapak Wakil Presiden Indonesia
Serta para pejabat tinggi Negara yang saya hormati pula
Dan para pemuda pemudi sebangsa setanah air yang saya banggakan
Puji syukur kita panjatkan atas kehadirat Allah SWT karena atas nikmatnya kita dapat berkumpul disini. Tak lupa pula kita kirimkan salam kepada Nabi Muhammad SAW beserta para pengikutnya yang shaleh dan shaleha hingga akhir zaman. Pada kesempatan ini saya akan menyampaikan pidato tentang “Hubungan Pendidikan dengan Pembentukan Karakter Anak Bangsa”.
Ratusan tahun lalunya, para pejuang negeri ini telah mengorbankan harta dan nyawa mereka demi satu cita-cita yaitu merdeka. Merdeka dari belenggu penjajahan yang menguasai Indonesia. Kini kemerdekaan telah ada dalam genggaman dan berada di depan mata. Inilah yang menjadi tugas penerus bangsa untuk mengisi kemerdekaan dengan belajar, memberikan kebanggaan pada negara ini, sehingga kita dapat maju seperti negara lain, kita dapat di pandang berwibawa di mata dunia.
Pembangunan karakter bangsa merupakan komitmen kolektif masyarakat Indonesia menghadapi tuntutan global dewasa ini. Sebagai perwujudan dari komitmen tersebut, dibuatlah undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3 yang menjelaskan bahwa “pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk karakter anak bangsa yang baik. Cita-cita luhur bangsa sebagai mana tertuang dalam tujuan pendidikan nasional tersebut adalah perwujudan nilai moral bangsa yang harus tertanam dan mengakar dalam pola hidup berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat. Arus global yang bergerak begitu cepat melalui media Internet yang serba digital telah berhasil mengubah paradigma, pola dan gaya hidup, dan bahkan tata nilai, sikap dan prilaku yang berdampak pada menipisnya sendi-sendi moral dan akhlak anak bangsa yang berimbas pada memudarnya karakter bangsa.
Hadirin yang saya hormati !
Dalam pembentukan karakter bangsa dibutuhkan keteladanan dari para pendidik bangsa. Namun, dewasa sekarang ini, banyak yang sudah tidak mempedulikannya lagi. Semakin lama keteladanan semakin menipis. Itu terlihat dari maraknya kekerasan terhadap anak. Kekerasan terhadap anak dapat ditinjau dari 4 dimensi, yaitu :
1. Kekerasan Verbal
2. Kekerasan fisik
3. Kekerasan psikologis
4. Kekerasan yang berkaitan dengan profesionalisme
Kekerasan verbal mencakup penggunaan stereotip-stereotip dan penamaan yang bermuatan seksi, rasis, kultur, sosio-ekonomi, ketidaksempurnaan fisik, dan homofobik. Kekerasan fisik meliputi tindakan mendorong, mencubit, menjambuk, menjewer, memukul dengan penggaris, atau melemparkan sesuatu. Kekerasan psikologis terjadi melalui tindakan berteriak, berbicara dengan kasar, menyobek hasil kerja, mengadu domba siswa, dan membuat ancaman-ancaman. Sedangkan, kekerasan yang berkaitan dengan profesionalisme dapat terjadi melalui penilaian yang tidak adil, menerapkan hukuman dengan pilih kasih, menggunakan cara-cara pendisiplinan yang tidak pantas.
Negara lainnya dapat maju dengan pendidikan yang efektif. Itu merupakan bukti nyata, bahwa dengan pendidikan, kita pula dapat menjadikan bangsa ini maju dan mempunyai citra di mata dunia.
Hadirin yang saya hormati !
Pancasila sebagai way of life akan menjadi tulisan di atas kertas saja. Tulisan ini hanya akan dikenang. Tentu kita semua menginginkan yang terbaik untuk negeri ini. Dalam pembentukan karakter anak bangsa, jelas saja yang bertanggung jawab adalah para pendidik bangsa yang berkompeten. Perlu adanya keteladanan. Keteladanan adalah making something as an example, providing a model yang artinya, menjadikan sesuatu sebagai teladan, menyediakan suatu model. Jadi, keteladanan guru adalah contoh yang baik dari guru baik yang berhubungan dengan sikap, prilaku, tutur kata, mental, maupun yang terkait dengan akhlak dan dan moral yang patut dijadikan contoh bagi peserta didik.Hal ini penting dimiliki tenaga pendidik untuk dijadikan dasar dalam membangun kembali etika, moral, dan akhlak. Pada prinsipnya, terdapat korelasi positif antara keteladanan guru dan kepribadian siswa, yang oleh Johnson digambarkan sebagai“No matter how brilliant your plan, it won’t work if you don’t set an example ” (bagaimana pun briliannya perencanaan anda, itu tidak akan berjalan jika tidak dibarengi dengan keteladanan). Dengan demikian, guru dipandang sebagai sumber keteladanan karena sikap dan perilaku guru mempunyai implikasi yang luar biasa terhadap siswa. keteladanan tenaga pendidik yang harus ditanamkan ke pada peserta didik mencakup integritas, profesionalitas, dan keikhlasan.
1. Integritas
Integritas berarti,” the condition of having no part taken away” atau “the character of uncorrupted virtue.” Seringkali kita menggunakan kata integritas, etika, dan moralitas secara bergantian untuk menunjukkan maksud yang sama. Dengan demikian, integritas dapat menghasilkan sifat keteladanan seperti kejujuran, etika, dan moral.
2. Profesionalitas
Orang yang profesional biasanya melakukan pekerjaan sesuai dengan keahliannya dan mengabdikan diri pada pengguna jasa dengan disertai rasa tanggungjawab atas kemampuan profesionalnya itu. Profesionalisme dipandang sebagai suatu keahlian yang melekat pada diri seseorang dalam melakukan segala bentuk pekerjaan secara profesional. Lebih jauh profesionalisme merupakan proses pemberian pekerjaan yang menjadi profesi untuk mencapai status profesional.
3. Keikhlasan
Nampaknya integritas dan profesionalitas saja belum dapat membangun personalitas tenaga pendidik yang patut dijadikan contoh bagi peserta didik, tetapi harus melibatkan keikhlasan yang terlahir dari hati yang bersih dan akhlak yang terpuji. Keikhlasan adalah suatu kondisi jiwa yang termotivasi secara intrinsik untuk melakukan suatu perbuatan atas dasar penyerahan diri ke pada sang pencipta, bukan karena motivasi ekstrinsik ingin dilihat dan didengar, mendapatkan pujian serta kedudukan yang tinggi dari orang lain.

Hadirin yang saya hormati !
Dapat ditarik kesimpulan bahwa, pendidikan adalah suatu ujung tombak yang menentukan berkembangan tidaknya suatu Negara. Pembangunan pendidikan yang dimaksud bukan pendidikan formal seperti yang umum dibicarakan melainkan membentuk pribadi dan karakter anak bangsa, yang beriman pada Tuhan Yang Maha Esa, Kreatif, Jujur, Berwawasan, dan berjiwa pancasila. Kita bangga terhadap institusi pendidikan yang telah menghasilkan insan-insan cendekia yang cerdas dan unggul tidak diragukan lagi akan tetapi kenyataanya implementasinya di lapangan masih jauh dari yang diharapkan. Oleh karena itu, menjadi bahan renungan dan pemikiran bersama upaya pembentukan karakater bangsa harus dimulai dari institusi pendidikan kita. Untuk mewujudkaan pendidikan karakter dalam rangka membangun peradaban bangsa tersebut harus dimulai dari pembentukan karakter guru nya baru diikuti terbentuknya pelajar yang cerdas dan berkarakter kuat, kemudian diimplementasikan kepada seluruh masyarakat dan elemen bangsa. Apabila pola tersebut dapat diwujudkan maka tinggal melengkapi dengan perangkat-perangkat yang mendukung terealisasinya pendidikan karakter di Indonesia. Jadi yang menjadi bahan renungan untuk kita semua yaitu, bagaimana upaya kita dalam mengisi kemerdekaan ini dengan hal-hal yang membanggakan. Mari kita berjuang bersama untuik membentuk karakter anak bangsa yang baik.
Sekian yang dapat saya sampaikan. Bila ada kesalahan dalam bertutur kata saya mohon maaf.
Terima kasih atas perhatiannya.
Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Visma Visfiyani Syam
XII. Akselerasi
SMA Negeri 3 Sengkang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar